Rabu, 13 November 2013

Menghormati Orang Tua Kita


Didalam ajaran Islam menghormati kedua orang tua adalah merupakan satu bagian ajaran yang tidak dapat dipisahkan dengan bagaian ajaran lainnya.Berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan kuknci untuk mendapatkan Ridho Allah SWT. Begitu besarnya perhatian Allah buat meletakkan dasar ajaran untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.


وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْناً وَإِن جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

" Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut :8)

Rasullulah SAW memberikan tekanan di dalam berbuat baik kepada kedua orang tua terutama kepada Ibu, alasannya selama sembilan bulan ibu yang mengandung, yang menyusui anaknya selama dua tahun. Oleh karena itu berbuat baik kepada Ibu Bapak bukan saja diperintahkan bahkan diberikan tutunannya dalam ajaran agama.


Kedudukan orang tua bagi anak begitu mulia, sehingga Allah SWT menentukan bahawa sesudah kita mengabdi kepada Allah maka kewajiban kedua adalah berbakti kepda kedua orang tua, sebagaimana firmannya

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak". (QS. An-nisa : 36)
Demikian Allah SWT sudah menetapkan perintah Nya agar kita sebagai anak harus berbuat baik kepada kedua orang tua.
Rasulullah SAW bersabda :


"Keridhoan Allah bergantung kepada keridhoan orang tua dan kemurkaan Allah bergantung kepada kemurkaan kedua orang tua." (HR. Tarmidzi)
Ayat dan Hadits tadi mengingatkan kepada kita agar jangan sampai melupakan orang tua ketika kita telah menjadi kaya. Memang tidak ada perjanjian tertulis agar anak membalas budi orang tuanya dan memang ibu bapaknya tidak berpikir untuk mendidik dengan tujuan demikian. Akan tetapi apakah pantas kiranya jika sianak melupakan pengorbanan kedua orang tua dan siksa berat bagi yang mendurhakan keduanya. Sabda Rasulullah SAW :
"Dua macam kejahatan yang akan dibalas Allah dengan segera didunia ini, yaitu zina dan durhaka kepada Ibu dan Bapaknya."(HR. Thabrani).

Kita tidak ingin seperti yang digambarkan sejarah yaitu putranya Nabi Nuh, kita juga tidak ingin mempunyai generasi seperti Alqomah yang tidak tahu berbalas budi kepada orang tuanya.
Karena itu marilah kita muliakan dan hormati kedua orang tua agar hatinya tidak merasa kesal atau marah akibat dari perbuatan / tindak tanduk kita yang kurang terpuji.
Kewajiban berbakti kepada kedua orang tua tidak hanya ketika masih hidup tetapi sampai mereka sudah meniggal dunia, ada empat perkara (ketika sudah meninggal) :
1. Mendo'akan
2.Melaksanakan janjinya
3. Memuliakan sahabatnya
4. Silaturahmi dengan familinya

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : wahai Tuhanku, kasihinilah mereka kedunya, sebagaimana mereka mengasihiku diwaktu kecil " (QS. Al-Isra' : 24)


Latihan UKK TIK Kelas IX-1

Minggu, 03 November 2013

Selamat Tahun Baru 1435 Hijriyah

Tidak terasa beberapa jam lagi kita umat islam akan memasuki tahun baru Hijriah 1435 H. Rasanya peringatan tahun baru hijriah ini kurang diingat, khususnya bagi umat muslim. Sesungguhnya momentum pergantian tahun ini sudah sepantasnya memberikan makna semangat baru untuk berbuat amal kebajikan, untuk bekal menghadap sang Ilahi.
Selain itu peringatan tahun baru ini memberikan keyakinan bahwa waktu merupakan merefleksikan diri dalam kehidupan dunia yang akan dipertangungjawabkan di akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Quran yang berbunyi artinya, “Adalah orang yang merugi jika hari ini sama dengan hari kemarin dan hari esok lebih buruk dengan hari ini. Dan kamu akan termasuk kaum yang beruntung jika hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.”
Pemahaman itu memberikan keyakinan bagi kita bahwa waktu bukan sekadar kumpulan angka-angka yang tertera pada jarum jam atau di kalender. Tetapi waktu adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT, Sang Pemilik Zaman.
Memaknai pergantian tahun itu sebagai momentum perubahan budaya secara individual (ibda’ binafsih), keluarga dan masyarakat yang selama tahun sebelumnya mungkin masih ada kekurangan atau kealpaan, diarah lebih baik di masa mendatang. Perubahan ini bisa terjadi apabila setiap jiwa umat Islam mampu ‘menghijrahkan’ seluruh kekuatannya (pemikiran dan tindakannya) bagi kemajuan dalam kehidupan secara pribadi.
Perubahan yang dimulai dari rumah tangga dan dilanjutkan melalui lembaga pendidikan akan membawa dampak positif sejalan dengan perkembangan. Semua itu harus dimulai dari sekarang sebagai menciptakan generasi muda Islami yang mampu melakukan perubahan dalam kehidupan. Sebab sudah digariskan dalam Islam bahwa“Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang akan mengubahnya”.
Karena itu ada tidaknya perubahan dalam kehidupan seseorang atau kelompok masyarakat sangat tergantung pada individu atau kelompok tersebut. Itu langkah minimal yang sejatinya dilakukan setiap muslim dalam memaknai pergantian tahun ini. Intinya, Islam juga mengajarkan, bahwa hari-hari yang dilalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Setiap Muslim dituntut untuk selalu berprestasi, yaitu menjadi lebih baik dari hari ke hari, begitu seterusnya.
Dengan keyakinan itu, maka orientasi kerja-kerja keduniaan yang selama ini kita lakukan patut kiranya di tahun 1435 H kita rubah berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan (ma’rufat) dan membersihkannya dari pelbagai kejahatan (munkarat).
Dalam hal ini, ma’rufat mencakup segala kebajikan (virtues) dan seluruh kebaikan (good qualities) yang diterima oleh manusia sepanjang masa, sedangkan munkaratmenunjuk pada segenap kejahatan dan keburukuan yang selalu bertentangan dengan nurani manusia.
Nilai kebaikan bisa diejawantahakn dengan bekerja berprinsip nilai kejujuran dan profesionalitas. Sikap jujur sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW agar dapat berperilaku yang baik dengan “menjauhi dusta karena dusta akan membawa kepada dosa dan dosa membawamu ke neraka. Biasakanlah berkata jujur karena jujur akan membawamu kepada kebajikan dan membawamu ke surga.” (HR Bukhari dan Muslim).
Pribadi yang jujur merupakan roh kehidupan yang teramat fundamental, karena setiap penyimpangan dari prinsip kejujuran pada hakikatnya akan berbenturan dengan suara hati nurani. Seperti contoh, para penyelenggara negara pada setiap aktivitas dalam rangka melayani masyarakat tentunya tidak menanggalkan prinsip kejujuran.
Dengan pemahaman itu, maka sepatutnya pergantian tahun baru Hijriah 1435 ini kita jadikan sebagai momentum mengubah diri menuju perubahan dalam segala bidang sebagai upaya penyatuan umat Islam Indonesia. Momentum hijriyah ini dinilai tepat untuk mengukit prestasi secara individu serta kelompok.

Dikutip dari : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/11/02/mvmd8e-tahun-baru-hijriah-1435-h
Dikelola oleh Syariep Hidayat